Kamis, 22 November 2012

Pabrik Garam Belanda di Desa Sadang Kulon, Sadang – Kebumen, Keajaiban Surga Bumi Indonesia




Sebuah Pabrik garam bukanlah suatu hal yang istimewa di mata masyarakat. Di berbagai daerah di nusantara ini banyak berdiri pabrik garam. Pada umumnya pabrik – pabrik ini didirikan di dekat sumber bahan bakunya yakni di tepi pantai karena bahan pembuat garam tidak lain adalah air laut yang diketahui mengandung garam. Air laut tersebut diendapkan dan dibiarkan menguap sehingga tersisa butiran – butiran garam yang kemudian dikumpulkan ataupun dicetak sebagai bongkah garam yang segera dapat digunakan untuk keperluan sehari – hari.


Keberadaan pabrik garam akan menjadi sangat aneh ketika lokasinya didirikan jauh dari sumber bahan baku atau jauh dari pantai. Hal ini terjadi di Desa Sadang Kulon, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pabrik ini didirikan oleh Belanda pada masa kolonial. Satu hal yang hingga kini masih menjadi misteri bagi masyarakat kebumen adalah “Bersumber dari apa dan dimanakah bahan baku garam di Desa Sadang Kulon?” Mengingat daerah tersebut berada di deretan pegunungan Karangsambung yang jauh dari pantai.

Fenomena bekas pabrik garam Belanda di Sadang Kulon ini menimbulkan berbagai logika pemikiran penulis diantaranya:

·         Belanda mendirikan pabrik garam di Sadang Kulon tentunya memiliki alasan yang kuat terkait dengan tersedianya sumber bahan baku. Sebelum mendirikan pabrik, Belanda pasti telah melakukan serangkaian penelitian dan pemetaan wilayah di segala aspek di Sadang, seperti halnya pabrik – pabrik milik Belanda di lain tempat misal: Pabrik Kapuk/Kapas dan Soklat di Weleri, Sawangan, Kendal; Pabrik Minyak Kelapa Mexolie di Panjer, Kebumen dan lain – lain yang semuanya terbukti berada di dekat sumber bahan baku. Dengan kata lain, Belanda selalu mendirikan pabrik – pabrik di daerah yang paling banyak mengandung sumber bahan baku.

·         Pabrik Garam Belanda di Sadang kecil kemungkinan mendatangkan bahan baku air laut dari kawasan pantai Selatan (Urut Sewu) Kebumen, mengingat lokasi Sadang merupakan pegunungan dengan jalan yang menanjak dan berkelok – kelok. Hal ini tentunya sangatlah tidak efektif dan efisien. Bahkan kawasan ini sejak kurun 1800 an telah diketahui oleh Verbeek (seorang peneliti Belanda) sebagai daratan tertua yang terbentuk akibat subduksi lempeng Benua dan lempeng Samudera pada masa Pratersier. Kemungkinan lain adalah dengan mendatangkan bahan baku berupa butiran – butiran garam dari tempat lain untuk kemudian dicetak di pabrik garam Sadang. Hal ini pun sangat kecil kemungkinannya sebab sangat tidak efektif dan efisien. Pada umumnya bahan baku butiran – butiran garam bisa langsung dimanfaatkan ataupun dicetak di tempat pengendapan dengan proses sederhana.

·         Logika pemikiran penulis yang terakhir adalah adanya sumber bahan baku berupa bukit yang mengandung garam atau Kuwu (sejenis sumber panas bumi/kawah yang mengeluarkan mineral – mineral termasuk garam) di daerah Sadang Kulon yang sengaja dirahasiakan oleh Belanda. Mungkin pemikiran penulis mengenai hal ini terlalu liar dan ekstrim bagi kebayakan orang, terlebih bagi mereka yang belum pernah mengetahui kondisi alam Sadang. Akan tetapi hal ini akan menjadi sangat mungkin mengingat Sadang merupakan daratan purba yang awalnya merupakan dasar laut dalam yang mencuat menjadi daratan akibat proses subduksi/tumbukan lempeng Benua dan lempeng Samudra pada masa pratersier. Daerah ini juga merupakan wilayah gunung api purba raksasa bawah laut disertai dengan sungai purba bawah laut Luk Ula (Jalur Ular) yang terangkat menjadi daratan sekitar 114 juta tahun yang lalu. Melihat historis geologis daerah ini maka penulis berasumsi bahwa ada pegunungan garam sebagai hasil endapan air laut purba di daerah Sadang, sehingga Belanda mendirikan pabrik garam di daerah ini. Dari penemuan fosil – fosil biota laut dan darat yang ada, menguatkan bahwa daerah ini mengandung garam yang tinggi sehingga banyak biota – biota laut dan darat yang berhasil terfosilkan.

Keberadaan sumber bahan baku garam di Desa Sadang Kulon ini memang masih menjadi misteri, bahkan oleh sebagian besar masyarakat Kebumen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar